Review Buku Supremacy - Parmy Olson + Insights + Reflective Questions

WINNER OF THE FINANCIAL TIMES AND SCHRODERS 2024 BUSINESS BOOK OF THE YEAR AWARD
Penulis : Parmy Olson
Jenis Buku : Social Aspects of Technology, AI & Semantics, Computer & Technology Industry
Penerbit : MacMillan
Tahun Terbit : 2024
Jumlah Halaman : 320 halaman
Dimensi Buku : 13.00 x 19.70 x 2.30 cm
Harga : Rp. 275.000*harga sewaktu-waktu dapat berubah
ISBN : 978-1250337764
Paperback
Edisi Bahasa Inggris
Available at PERIPLUS Bookstore
Sekelumit Tentang Isi
Supremacy mengungkap persaingan sengit dalam memperebutkan dominasi kecerdasan buatan (AI) yang dipelopori oleh dua raksasa teknologi, Google dan Microsoft, bersama laboratorium mitra mereka, DeepMind dan OpenAI. Melalui narasi yang berfokus pada tokoh-tokoh kunci seperti Sam Altman dan Demis Hassabis, buku ini menelusuri bagaimana visi awal untuk "memecahkan kecerdasan" demi kemanusiaan perlahan tergeser oleh ambisi komersial dan kekuatan monopoli Silicon Valley. Olson tidak hanya menceritakan sejarah pengembangan teknologi seperti ChatGPT, tetapi juga memberikan kritik tajam terhadap dampak sosial yang ditimbulkan, mulai dari bias algoritma dan penyebaran misinformasi hingga eksploitasi sumber daya lingkungan yang masif di balik pusat data AI.
Yuk cek dulu daftar isinya.
Preface to the paperback edition
Prologue
ACT 1: THE DREAM
Chapter 1. High School Hero
Chapter 2. Winning, Winning, Winning
Chapter 3. Save the Humans
Chapter 4. A Better Brain
Chapter 5. For Utopia, for Money
Chapter 6. The Mission
ACT 2. THE LEVIATHANS
Chapter 7. Playing Games
Chapter 8. Everything Is Awesome
Chapter 9. The Goliath Paradox
ACT 3. THE BILLS
Chapter 10. Size Matters
Chapter 11. Bound to Big Tech
Chapter 12. Myth Busters
ACT 4. THE RACE
Chapter 13. Hello, ChatGPT
Chapter 14. A Vague Sense of Doom
Chapter 15. Checkmate
Chapter 16. In the Shadow of Monopolies
Author
Parmy Olson adalah kolumnis Bloomberg Opinion yang meliput regulasi teknologi, kecerdasan buatan, dan media sosial. Sebagai mantan reporter untuk Wall Street Journal dan Forbes, ia adalah penulis buku We Are Anonymous dan penerima penghargaan Palo Alto Networks Cyber Security Cannon Award. Olson telah menulis tentang sistem kecerdasan buatan dan uang di baliknya selama tujuh tahun. Pelaporannya tentang akuisisi WhatsApp senilai $19 miliar oleh Facebook dan dampak buruk yang menyertainya menghasilkan dua cerita sampul Forbes dan dua penghargaan kehormatan dalam penghargaan jurnalisme bisnis SABEW. Di Wall Street Journal, ia menyelidiki perusahaan-perusahaan yang melebih-lebihkan kemampuan AI mereka dan merupakan orang pertama yang melaporkan upaya rahasia di laboratorium AI teratas Google untuk memisahkan diri dari perusahaan guna mengendalikan kecerdasan super buatan yang telah mereka ciptakan.

Picture: Author - Parmy Olson
Review
Saya suka buku ini karena jelas, lugas, dan mudah dipahami. Narasinya juga mengalir seperti menyimak sebuah cerita yang ada unsur ketegangannya. Meski untuk sebagian pembaca mungkin ada bagian yang terlalu panjang, namun penggambarannya memang termasuk hidup dan detail.
Buku ini juga menarik karena kontennya yang eksklusif akses ke sumber informasi tingkat tinggi. Sebagai jurnalis peraih penghargaan, tulisannya juga diriset dengan baik. Banyak wawasan yang saya dapatkan dari buku ini, terutama karena saya termasuk orang yang awam di topik teknologi dan AI. Sisi kekhawatiran yang ditanamkan Olson dalam tulisannya mungkin akan ditangkap sebagai paranoia oleh beberapa pembaca, namun secara pribadi saya akan menggunakannya untuk membangkitkan kewaspadaan diri.
Buku ini “thought-provoking, surprising, and frankly terrifying expose”
Tentu saja opini pembaca bisa berbeda, ulasan buku ini memang bersifat subjektif, namun semoga tetap bermanfaat.
Kutipan
Dua kutipan yang paling berkesan buat saya dari buku ini adalah sebagai berikut.
Kutipan pertama yakni tentang peringatan kepercayaan terhadap pemimpin teknologi yang ada di halaman ix (bagian Preface to the Paperback Edition). Kutipan ini menurut saya relevan karena mengingatkan kita untuk tetap kritis terhadap narasi yang dibangun oleh para pemimpin perusahaan teknologi besar. Di balik janji-janji untuk kebaikan umat manusia, terdapat persaingan kekuasaan dan ambisi korporasi yang sangat kuat.
Kutipan kedua yakni kalimat tentang pengawasa teknologi AI yang ada di halaman x. Kutipan ini menyentuh masalah krusial bagi publik saat ini: transparansi. Semakin canggih model AI seperti ChatGPT, semakin sulit bagi siapa pun, termasuk para ahli, untuk memeriksa dan memahami potensi bias atau masalah di dalamnya, sehingga risiko bagi pengguna umum menjadi semakin tidak terlihat. Apalagi bagi orang awam seperti saya.
Kedua kutipan ini menangkap esensi utama dari "suara" penulis yang ingin mengedukasi sekaligus membujuk pembaca agar lebih waspada terhadap perkembangan AI yang sangat cepat.

Picture: Buku Supremacy
Rekomendasi
Saya rekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang ingin melampaui hype ChatGPT dan memahami siapa yang sebenarnya memegang kendali atas masa depan kita. Gaya bahasanya yang aksesibel dan tidak memerlukan latar belakang teknis memungkinkan pembaca umum non-teknis (awam) untuk mudah memahami isi buku. Peta historis dan konteks industri yang jelas akan cocok untuk pembaca professional yang ingin “catch up” tentang hal ikwal AI. Topik risiko, bias, dan urgensi pengawasan teknologi canggih akan sesuai bagi pembaca dengan minat etika teknologi dan regulasi. Kisah dramatis Altman vs Hassabis dan dinamika OpenAI-Google membuat buku ini menarik untuk pembaca penggemar narasi bisnis dan rivalitas. Risetnya yang mendalam dan perspektif kritis terhadap dampak AI selaras dengan fokus para akademisi dan peneliti sosial-teknologi. Dan yang pasti, Supremacy kurang cocok untuk pembaca yang mencari panduan teknis implementasi AI, atau yang mengharapkan narasi optimis tanpa kritik.
Secara keseluruhan, Supremacy adalah bacaan yang indispensable tentang janji dan bahaya AI, mengubah berita utama yang kompleks menjadi pemahaman yang utuh tentang masa depan yang sedang kita bangun.

Picture: Beberapa halaman pilihan pada buku Supremacy
More Review + Insights + Reflective Questions
Tujuan dan Audiens
Buku ini ditulis dengan tujuan utama untuk menginformasikan perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) dan membujuk pembaca agar lebih waspada terhadap dampaknya. Parmy Olson memandu pembaca untuk memahami bagaimana ambisi teknologi ini bergeser dari misi kemanusiaan menjadi perlombaan korporasi yang sengit. Misalnya, Olson menargetkan pembaca umum yang ingin memahami sejarah ChatGPT, serta para praktisi yang mencari wawasan tentang dinamika kekuasaan di Silicon Valley.
Tema Utama dan Poin Penting
Tema sentral buku ini adalah persaingan kekuasaan antara raksasa teknologi (Microsoft dan Google) serta dilema antara keamanan AI vs. keuntungan komersial. Supremacy membahas tentang rivalitas OpenAI vs DeepMind dan Altman vs Hassabis, Artificial General Intelligence, dinamika Big Tech – motif profit – “Faustian bargain”, dilema etis, bias teknologi, potensi bahaya eksistensial, kisah personal pendiri, ambisi, dan konflik internal. Selain itu ada pula dampak sosial dan ekonominya (radical social, economic changes, and cultural ramifications)
Poin Penting buku ini menyoroti bagaimana janji awal untuk membangun AI yang "terbuka" dan bermanfaat bagi umat manusia perlahan-lahan dikompromikan demi dominasi pasar.
Olson menenun benang merah antara ambisi individu, tekanan korporasi, dan konsekuensi peradaban
Kekuatan dan Kelemahan
Menurut saya kekuatan buku ini terletak pada wawasan yang menggugah pikiran dan penelitian yang mendalam. Misalnya, menurut saya Olson berhasil menjelaskan konsep abstrak seperti "hallucination" (halusinasi AI) dan AGI melalui contoh yang relevan.
Untuk kelemahan buku ini, bagi sebagian pembaca, detail mengenai struktur korporat dan negosiasi bisnis mungkin terasa terlalu padat di beberapa bagian.
Suara dan Gaya Kepenulisan
Olson menggunakan gaya naratif yang menarik, mengubah topik teknis yang kering menjadi cerita yang terasa seperti novel thriller. Nadanya otoritatif namun tetap komunikatif, sehingga mudah dicerna oleh non-ahli. Misalnya, penggunaan teknik bercerita (anekdot) tentang masa muda Sam Altman sebagai "High School Hero" memberikan dimensi manusiawi pada subjeknya
Konten dan Nilai Praktis
Konten buku ini memiliki keaslian yang tinggi karena Olson, sebagai kolumnis teknologi veteran, menggunakan jaringan sumber tingkat tinggi untuk menyajikan informasi yang jarang diketahui publik. Materi disusun secara logis melalui empat "Babak" (Acts), mulai dari fase "Impian" (The Dream) hingga "Perlombaan" (The Race). Penulisan didukung oleh penelitian komprehensif, mencakup profil mendalam tokoh kunci seperti Sam Altman dari OpenAI dan Demis Hassabis dari DeepMind
Buku ini memberikan wawasan yang dapat ditindaklanjuti bagi para profesional untuk memahami lanskap risiko AI masa depan, termasuk isu bias dan ketergantungan pada alat seperti ChatGPT. Contohnya, wawasannya bisa memberikan pemahaman tentang bagaimana AI dapat memengaruhi karier dan industri secara luas, yang sangat relevan untuk perencanaan strategis di dunia bisnis saat ini
Pertimbangan Konteks yang Lebih Luas
Supremacy menempatkan fenomena AI dalam konteks sejarah perkembangan teknologi global, membandingkannya dengan pergeseran besar yang pernah dilakukan oleh internet dan smartphone. Relevansinya adalah, buku ini mencerminkan keprihatinan masyarakat saat ini mengenai privasi, etika, dan potensi dominasi monopoli baru di era digital.
Insights – Summary
Supremacy: AI, ChatGPT, and the Race that Will Change the World menceritakan persaingan sengit antara dua raksasa teknologi, Google dan Microsoft, serta dua laboratorium AI terkemuka, DeepMind dan OpenAI, dalam memperebutkan dominasi kecerdasan buatan.
Bab awal buku ini menceritakan latar belakang Sam Altman, pendiri OpenAI. Ia tumbuh di St. Louis, Missouri, dan menunjukkan bakat kepemimpinan serta ketertarikan pada teknologi sejak dini. Altman sempat kuliah di Stanford sebelum akhirnya mendirikan perusahaan rintisan pertamanya, Loopt. Sam Altman menggalang dana untuk Loopt melalui program akselerator Y Combinator yang baru dibentuk oleh Paul Graham. Meskipun Loopt akhirnya dijual seharga $43 juta, ini bukanlah kesuksesan besar secara finansial, namun menjadi batu loncatan penting bagi karier Altman di Silicon Valley.
Bab berikutnya kemudian fokus pada Demis Hassabis, pendiri DeepMind. Hassabis adalah seorang jenius catur sejak kecil yang kemudian terjun ke industri video game. Hassabis memiliki obsesi seumur hidup untuk membangun "otak digital" atau kecerdasan buatan umum (AGI). Hassabis merancang game simulasi sukses berjudul Theme Park pada usia 17 tahun, yang menunjukkan kemampuannya dalam menciptakan algoritma cerdas yang kompleks dalam lingkungan virtual.
Cerita bergulir ke topik kekhawatiran para tokoh teknologi tentang ancaman eksistensial AI. Sam Altman dan para pendukung Effective Altruism percaya bahwa AI yang tidak terkendali bisa memusnahkan manusia (Singularity). Sebuah studi menunjukkan bahwa pengguna muda ChatGPT cenderung menjadi bergantung secara emosional atau fungsional pada alat AI tersebut, yang bisa mengikis kebanggaan terhadap pekerjaan mereka sendiri.
Cerita lalu berpindah ke awal mula berdirinya DeepMind di London dengan misi memecahkan kecerdasan untuk menyelesaikan segala masalah lainnya. Mereka menarik minat investor besar seperti Peter Thiel dan Elon Musk. Hassabis menggunakan konsep dari ilmu saraf (neuroscience) untuk merancang AI yang bisa belajar seperti manusia, bukan sekadar mengikuti perintah statis.
Pada bab lima, mulai muncul persaingan untuk mengakuisisi DeepMind antara Facebook dan Google. Akhirnya, Google mengakuisisi DeepMind seharga $650 juta pada tahun 2014. Hassabis bersikeras memasukkan klausul komite etika dalam kesepakatan akuisisi dengan Google untuk memastikan teknologi mereka tidak disalahgunakan untuk tujuan militer atau pengawasan.
Di bab enam, diceritakan tentang pendirian OpenAI pada tahun 2015 oleh Elon Musk, Sam Altman, Greg Brockman, dkk. Misinya adalah menciptakan AI yang "terbuka" dan bermanfaat bagi umat manusia untuk menandingi dominasi Google/DeepMind. OpenAI awalnya didirikan sebagai organisasi nirlaba dengan komitmen transparansi total, berjanji untuk merilis semua penelitian mereka ke publik.
Kemenangan monumental AlphaGo milik DeepMind atas juara dunia Go, Lee Sedol menjadi momen pembuktian bahwa AI telah melampaui kemampuan manusia dalam permainan yang paling kompleks. DeepMind menggunakan teknik reinforcement learning yang memungkinkan AI belajar dengan bermain melawan dirinya sendiri jutaan kali.
Bab delapan menyoroti sisi gelap AI, termasuk biascv algoritma dan diskriminasi. Bab ini membahas bagaimana data yang cacat dapat menghasilkan sistem AI yang rasis atau seksis. Penggunaan alat COMposa PAS di sistem peradilan AS terbukti memberikan skor risiko yang lebih tinggi secara tidak adil kepada terdakwa kulit hitam dibandingkan kulit putih. Riset oleh Joy Buolamwini juga menunjukkan bahwa teknologi pengenalan wajah memiliki tingkat kesalahan yang jauh lebih tinggi pada wajah perempuan berkulit gelap.
Olson lalu menyoroti ironi Google yang menciptakan teknologi dasar AI modern tetapi lambat dalam memanfaatkannya karena takut akan risiko reputasi. Para peneliti Google menciptakan model Transformer (dasar dari "T" di ChatGPT) dalam makalah "Attention Is All You Need". Namun, Google ragu-ragu merilis produk berbasis teknologi ini ke publik.
Kemudian terjadi perubahan strategi OpenAI dari fokus pada algoritma menjadi fokus pada skala (data dan daya komputasi yang masif). Mereka mulai mengembangkan model GPT awal. OpenAI menemukan bahwa dengan memperbesar model (menambah parameter), kemampuan AI untuk memahami dan menghasilkan bahasa meningkat secara dramatis tanpa perlu pemrograman manual yang rumit.
OpenAI membutuhkan dana besar untuk komputasi, yang memaksa mereka berubah menjadi entitas berlaba terbatas dan menjalin kemitraan strategis dengan Microsoft senilai $1 miliar. Kemitraan ini memberikan OpenAI akses eksklusif ke infrastruktur cloud Azure milik Microsoft, sementara Microsoft mendapatkan hak eksklusif untuk mengomersialkan teknologi OpenAI.
Olson lalu membahas klaim tentang AI yang memiliki "kesadaran" dan kritik terhadap model bahasa besar sebagai "beo stokastik" (stochastic parrots). Makalah penelitian berjudul "On the Dangers of Stochastic Parrots" oleh Timnit Gebru, Margaret Mitchell, dan Emily Bender memperingatkan bahwa AI tidak benar-benar memahami bahasa, melainkan hanya memprediksi pola kata dari data internet yang sering kali bias.
Di bab tiga belas Olson membahas peluncuran ChatGPT pada November 2022 yang mengejutkan dunia dan memicu "kode merah" di Google. ChatGPT mencapai satu juta pengguna hanya dalam waktu lima hari, menjadikannya salah satu produk teknologi dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah.
Kemudian muncul petisi untuk menghentikan pengembangan AI selama enam bulan karena kekhawatiran akan risiko yang tidak terkendali. Skandal kejatuhan bursa kripto FTX dan pendirinya, Sam Bankman-Fried, yang merupakan donor besar bagi gerakan keselamatan AI, memberikan dampak negatif pada kredibilitas komunitas tersebut.
Di bab lima belas ada drama pemecatan Sam Altman oleh dewan direksi OpenAI pada November 2023, yang diikuti oleh pemberontakan karyawan dan kembalinya Altman beberapa hari kemudian. Hampir seluruh karyawan OpenAI mengancam akan mengundurkan diri dan pindah ke Microsoft jika Altman tidak diangkat kembali, menunjukkan kekuasaan Altman yang sangat besar di perusahaan tersebut.
Olson lalu menggarisbawahi refleksi tentang bagaimana perlombaan AI ini akhirnya memperkuat dominasi perusahaan teknologi besar dan dampaknya terhadap lingkungan serta Masyarakat. Riset menunjukkan dampak lingkungan yang besar dari AI, di mana pelatihan model bahasa besar membutuhkan jutaan galon air untuk mendinginkan pusat data dan konsumsi energi listrik yang sangat tinggi.
*detail insights ada di buku
Reflective Questions
Berikut adalah beberapa pertanyaan reflektif yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman aktif, berpikir kritis, dan hubungan personal kita dengan materi buku Supremacy:
1. Refleksi Pribadi dan Respon Emosional
Pertanyaan ini bertujuan untuk menambah keaslian dan kedalaman pada pemahaman Anda dengan menggali tanggapan emosional.
- Pertanyaan: Saat membaca tentang transisi OpenAI dari organisasi nirlaba yang idealis menjadi entitas "berlaba terbatas" demi kemitraan miliaran dolar dengan Microsoft, apa respon emosional Anda? Apakah Anda merasa terinspirasi oleh skalabilitasnya atau justru frustrasi oleh pergeseran misinya?
- Hubungan Personal: Pernahkah Anda berada dalam situasi di mana idealisme pribadi Anda harus berkompromi dengan kebutuhan praktis atau finansial? Bagaimana hal itu mengubah cara Anda memandang narasi Sam Altman di buku ini?
2. Evaluasi Konten dan Berpikir Kritis
Gunakan pertanyaan ini untuk menguji kualitas bukti dan keandalan informasi yang disajikan oleh penulis.
- Pertanyaan: Olson membahas risiko "beo stokastik" (stochastic parrots) dan bias algoritma yang dapat merugikan kelompok marginal. Berdasarkan sumber yang dikutip penulis, apakah menurut Anda argumen ini didukung oleh bukti yang kredibel ataukah ada kesenjangan dalam penelitiannya?
- Analisis Sudut Pandang: Bagaimana latar belakang Parmy Olson sebagai jurnalis teknologi memengaruhi caranya menceritakan persaingan antara Google dan Microsoft? Apakah Anda melihat adanya bias tertentu dalam narasinya mengenai "kode merah" di Google saat ChatGPT diluncurkan?
3. Nilai Praktis dan Implementasi
Fokus pada bagaimana wawasan dari buku dapat diterapkan dalam kehidupan nyata atau pekerjaan Anda.
- Pertanyaan: Buku ini menyoroti dampak lingkungan yang masif dari AI, termasuk konsumsi energi dan air yang sangat tinggi untuk pusat data. Bagaimana informasi ini secara konkret mengubah cara Anda akan menggunakan alat AI di masa depan?
- Kemandirian Belajar: Langkah konkret apa yang bisa Anda ambil untuk memastikan Anda tetap memiliki "kebanggaan terhadap pekerjaan sendiri" di tengah meningkatnya ketergantungan pada alat otomatisasi seperti yang diperingatkan dalam buku?
4. Pertimbangan Konteks dan Relevansi
Membantu Anda menempatkan buku dalam konteks sosial dan sejarah yang lebih luas.
- Pertanyaan: Mengapa topik "perlombaan AI" ini sangat penting untuk dibahas saat ini? Apakah menurut Anda buku ini menawarkan wawasan yang abadi atau informasinya akan cepat usang karena terikat pada tren teknologi yang cepat berlalu?
- Perbandingan: Bagaimana isi buku Supremacy menantang atau memperkuat keyakinan Anda saat ini tentang masa depan kecerdasan buatan dibandingkan dengan berita atau buku lain yang pernah Anda baca?
5. Memperkuat Ingatan melalui Poin Penting (Takeaways)
Mendorong Anda untuk menangkap esensi materi agar lebih melekat dalam ingatan.
- Pertanyaan: Jika Anda harus memilih satu kutipan atau bagian paling menonjol dari buku ini (misalnya tentang drama pemecatan Sam Altman atau kemenangan AlphaGo), bagian mana yang paling menangkap pesan utama penulis bagi Anda?
- Dampak Jangka Panjang: Apa pelajaran tunggal terbesar yang akan tetap Anda ingat jauh setelah Anda menutup buku ini?
Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara mandiri, kita tidak hanya menyerap informasi secara pasif, tetapi juga melakukan analisis mendalam terhadap struktur, tujuan, dan dampak dari buku Supremacy.
*Pilihlah satu atau dua pertanyaan setiap kali menyelesaikan satu bab. Tulis jawaban di jurnal akan sangat membantu dalam memperkuat retensi informasi dan memastikan transisi kita menjadi pembaca yang aktif.
Refleksi Pribadi
Buat saya pribadi, buku ini menginspirasi saya untuk waspada dan mempertanyakan asumsi bahwa kemajuan teknologi selalu sejalan dengan kebaikan publik.
Menurut saya, meskipun buku ini terbit di tahun 2024 (untuk cetakan pertama) namun Supremacy tetap merupakan bacaan wajib yang tepat untuk kita yang ingin memahami sejarah AI modern secara menyeluruh. Meski ringkas namun buku ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga berfungsi sebagai panduan kritis di tengah hiruk-pikuk revolusi AI.
"Supremacy" bukan sekadar buku tentang teknologi tapi cermin yang memantulkan ambisi, ketakutan, dan pilihan moral umat manusia di persimpangan sejarah. Parmy Olson mengingatkan kita bahwa di balik kode dan algoritma, selalu ada tangan, hati, dan kepentingan yang membentuk masa depan. Membaca buku ini bukan hanya untuk memahami AI, tetapi untuk mempertanyakan: ke arah mana kita ingin diantar oleh ciptaan kita sendiri?
-------------------
-------------------------------------------------------------------------

Dipidiff.com adalah sebuah media edukasi yang menginspirasi melalui beragam topik pengembangan diri, rekomendasi buku-buku, dan gaya hidup yang bervibrasi positif.
Diana Fitri, biasa dipanggil Dipi, adalah seorang ibu yang gemar berkebun, dan rutin berolahraga. Gaya hidup sehat dan bervibrasi positif adalah dua hal yang selalu ia upayakan dalam keseharian. Sambil mengasuh putra satu-satunya, ia juga tetap produktif dan berusaha berkembang secara kognitif, sosial, mental dan spiritual.
Lulusan prodi Pemuliaan Tanaman Universitas Padjadjaran, Dipi lalu melanjutkan studi ke magister konsentrasi Pemasaran, namun pekerjaannya justru banyak berada di bidang edukasi, di antaranya guru di Sekolah Tunas Unggul, sekolah International Baccalaureate (IB), dan kepala Kemahasiswaan di Universitas Indonesia Membangun. Setelah resign tahun 2016, Dipi membangun personal brand Dipidiff hingga saat ini.
Sebagai Certified BNSP Public Speaker dan Certified BNSP Trainer, serta certified IALC coach, (certified BNSP Master Trainer, certified BNSP NLP, certified BNSP Komunikasi, certified internasional coach ICF, certified EQ, dan certified Pengembangan Kurikulum dan Fasilitas Pelatihan -- on planning 2026). Dipi diundang oleh berbagai perusahaan, komunitas dan Lembaga Pendidikan untuk berbagi topik membaca, menulis, mereviu buku, public speaking, dan pengembangan diri, misalnya di Kementrian Keuangan, Universitas Negeri Semarang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, BREED, Woman Urban Book Club, Lions Clubs, Bandung Independent School, The Lady Book Club, Buku Berjalan.id, SMAN 24 Bandung, SMAN 22 Bandung, Mega Andalan Kalasan, Manulife Indonesia, SERA ASTRA, dan lain-lain. Selama dua tahun menjadi pemateri rutin di platform edukasi Cakap.com. Dipi meng-coaching-mentoring remaja dan dewasa di Growth Tracker Program, ini adalah program pribadi, yang membantu (terutama) remaja dan dewasa muda untuk menemukan passion dan mengeluarkan potensi mereka.
Berstatus bookblogger, reviu-reviu buku yang ia tulis selalu menempati entry teratas di halaman pertama mesin pencari Google, menyajikan ulasan terbaik untuk ribuan pembaca setia. Saat ini Dipi adalah brand ambassador untuk Periplus Bandung dan berafiliasi dengan Periplus Indonesia di berbagai event literasi. Dipi juga pernah menjadi Official Reviewer untuk Republika Penerbit dan berpartner resmi dengan MCL Publisher. Kolaborasi buku-bukunya, antara lain dengan One Peach Media, Hanum Salsabiela Rais Management, KPG, Penerbit Pop, Penerbit Renebook, dan Penerbit Serambi. Reviu buku Dipi bisa dijumpai di www.dipidiff.com maupun Instagram @dipidiffofficial. Dulu sempat menikmati masa menjadi host di program buku di NBS Radio dan menulis drop script acara Indonesia Kemarin di B Radio bersama penyiar kondang Sofia Rubianto (Nata Nadia). Podcast Dipi bisa diakses di Youtube Dipidiff Official.
Let's encourage each other to shape a better future through education and book recommendation.
Contact Dipidiff at DM Instagram @dipidiffofficial
Hits: 2243
TERBARU - ARTIKEL PENGEMBANGAN DIRI & TERAPI TANAMAN
Kuasai Mindset, Ubah Hidup: Panduan Berp…
19-02-2026
Dipidiff

Cara Berpikir Positif, Produktif, dan Bermanfaat dengan Menguasai Mindset "In a growth mindset, challenges are exciting rather than threatening. So rather than thinking, oh, I'm going to reveal my weaknesses, you...
Read moreCara Mewujudkan Impian dengan Manifestas…
03-11-2024
Dipidiff

Updated 24 Februari 2025 I think human beings must have faith or must look for faith, otherwise our life is empty, empty. To live and not to know why the cranes...
Read moreMengapa Ringkasan Buku Itu Penting?
19-06-2022
Dipidiff

Pernah ga sih teman-teman merasakan suatu kebutuhan yang sebenarnya mendesak namun seringkali diabaikan? Mungkin karena rasanya kebutuhan ini sepele, atau mungkin dia tidak terasa mendesak sampe ketika waktunya tiba mendadak...
Read more10 Tips Mengatasi Kesepian
05-12-2021
Dipidiff

Apakah kamu akhir-akhir ini merasa kesepian? Rasa sepi ini ga cuma hadir saat sendiri, tapi juga di tengah keramaian, atau bahkan saat bersama orang-orang terdekat. Ada sebuah rasa hampa yang...
Read moreCara Membuat Perpustakaan Pribadi di Rum…
25-09-2020
Dipidiff

Perpustakaan sendiri punya kenangan yang mendalam di benak saya. Saya yakin teman-teman juga punya memori tersendiri ya tentang library. Baca juga "Arti Perpustakaan Bagi Para Pecinta Buku" Baca juga "Perpustakaan Luar...
Read more









